Penayangan bulan lalu

Rabu, 02 November 2011

Tafsir Ayat 35 Surat An-Nur



“Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah celah yang tak tembus yang di dalmnya ada pelita besar. Pelita itu di dalm kaca, kaca itu bagaikan bintang seperti mutiara. Dinyalakan dengan minyak dari pohon yang di berkati yaitu pohon zaitun, (yang tunbuh) tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat. Hampir-hampir saja minyaknya menerangi, walaupun ia tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membut perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”
                Ayat ini dapt di hubungkan dengan akhir ayat yang lalu yang menjelaskan bahwa Allah menurunkan ayat-ayat yang demikian jelas serta menjelaskan segala tuntunan yang berkaitan dengan kebutuhan hidup duniawi dan ukhrowi manusia. Ayat ini bagaikan berkata: Diturunkannya oleh Allah ayat-ayat yang berfungsi seperti di kemukakan itu di sebabkan karena Allah pemberi Cahaya kepada langit dan bumi baik cahaya yang bersifat yang materialyang dapat di lihat dengan mata kepala, maupun immaterial berupa cahaya kebenaran, keimanan, pengetahuan dan lain-lain yang di rasakan dengan mata hati. Perumpamaan kejelasan cahaya-Nya adalah seperti sebuah celah dinding yang tak tembus  sehingga tidak di terpa angin yang dapat memedamkan cahaya, dan membantu pula menghimpun cahaya dan memantulkan kea rah tertentu yang di dalamnya ada yakni di letakkan pelita besar.  Pelita itu di dalam kaca yang sangat bening dan kaca itu sedemikian bersih dan bening sehingga ia bagaikan bintang yang bercahaya, serta mengkilap seperti mutiara. Pelita itu dinyalakan dengan bahan bakar berupa  minyak dari pohon yang di tanam di lokasi yang di berkati  sehingga tanah dan tempat tumbuhnya baik yaitu pohon zaitun yang tumbuh di tengah, tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat sehingga ia selalu di tempa oleh cahaya matahari sepanjang hari. Karena jernihnya hamper-hampir sajaminyaknya menerangi  sekelilingnya, walaupun  ia yakin pelita itu tidak di sentuh api. Cahaya di atas yakni berlapis cahaya. Demikian perumpamaan petuuk Allah yang terbentang di alam raya ini dan yang di turunkannya melalui para nabi. Allah membimbing kepada Cahaya-nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan  yang bersifat indrawi dan konkret dan memaparkan nya bagi manusia untuk memudahkan mereka memahami hal-hal yang abstrak dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu  termasuk mereka yang mempersiapkan diri untuk menerima petunjuk-petunjuk-Nya.
Kata (Nuur) di gunakan oleh bahasa dalam arti sesuatu yang menjelaskan / menghilangkan kegelapan sesuatu yang sifatnya gelap atau tidak jelas. Ia di gunakan dalam pengertian hakiki untuk menunjuk sesuatu yang memungkinkan mata menangkap bayangan benda-benda di sekitarnya. Si sini nuur merupakan sesuatu yang dapat di tangkap oleh mata, dan dalm saat yang sama, mata pun dapat menangkap apa yang di sinari olehnya. Dengan demikian dia adalah terang  dan  menerngi.  Kata tersebut kemudian di gunakan dalm artian majazi untuk menunjuk sesuatu yang menjelaskan hal-hal yang bersifat abstrak. Ini bermula dari hal-hal yang bersifat konkret dan indrawi, sehingga pancaindrapun secara majazi di namai nuur. Dengannya terjangkau hal-hal yang bersifat indrawi, seperti pendengaran dan rasa. Penggunaan ini kemudian berkembang lagi sehingga akal yang dapat menganalisis dan menangkap hal-hal yang bersifat abstrak di namai juga nuur. Demikian juga ilmu yang berfungsi menghilangkan kekaburan dan kegelapan yang menyelubungi benak seseorang.
Tentu saja Allah SWT tidak mungin di namai nuur dalam pengertian tersebut. Akidah islam menolak penamaan-Nya dalam makna tersebut, karena tidak ada yang serupa dengan serupa-Nya, apalagi yang serupa dengan-Nya—dalam QS. As-Syuuraa:11 di nyatakan: “tidak ada yang serupa dengan Dia”--  dan lebih-lebih lagi yang sama. Semua yang terlintas dalam benak, kenyataan atu imajinasi, maka Allah berbeda dengan yang terlintas itu. Sebentar kita akan kembali manjelaskan makna dan maksud kata ini pada ayt di atas, setelah menjelaskan makn kosa katanya yang paling penting.
Kata (Misykaah) di pahami oleh ulama dalm arti lubang / celah yang tidak tembus.  Kata ini adalah salah satu  kata non arab yang di gunakan al-quran. Sementara ulama berpendapat bahwa ia berasal dari bahasa habasyah/Ethopia. Ada juga yang berpendapat bahwa maknanya adalah tiang yang di puncuknya di letakkan lampu. Pendapat lain menyatakan bahwa ia adalah besi tempat meletakkan sumbu dalam lampu semprong. Namun pendapat pertama itulah yang paling populer dan sesuai, karena seperti yang di kemukakan di atas, celah yang tidak tembus menjadilan nyala lampu tidak di terpa angin yang dapat memadamkannya, dan membantu pula menghimpun cahaya dan memantulkan ke arah tertentu.
Kata Mishbaah adalah alat berupa wadah/tempat menyalakan sumbu atau tabung, sedang zujaajah  adalah kaca penutup nyala lampu itu (semprong). Ayat di atas mendahulukan penyebutan  akat misykaah, karena yang hendak di lukiskan adalah keadaan misbaah  itu dengan cahaya lampu, yang di sini sangat kait berkait dengan hal-hal lain yang di sebut sesudahnya.
Kata (kaukab) di gunakan al-quran untuk bintang yang bercahaya. Sementara ulama membatasinya dalam arti bintang mars.
Kata (yuuqod) terambil dari kata (waquud) yakni bahan bakar. Dengan demikian kata tersebut mengandung makna bahwa bhwa bahan bakar yang di gunakan untuk menyalakn pelita itu adalah yang bersumber dari pohon yang penuh berkat (pohon zaitun). Penggunaan bentuk kata kerja masa kini dan dating (mudhori) pada kata tersebut mengisyaratkan bahwa bahan bakarnya tidak pernah habis, selalu bertambah dan di tambah sehingga cahaya pelita itu bersinambung tidak henti-hentinya.
Kini kita kembali kepada kata nuur yang di gunakan Al-quran dan ayat ini.
Merujuk kepada penggunaan Al-quran, di temukan bahwa kata ini paling tidak memiliki sebelas makna, yaitu 1) agama islam, 2) iman, 3) pemberi petunjuk, 4) Nabi Muhammad saw., 5) cahay siang, 6) cahaya bulan, 7) cahaya yang menyertai kaum mukminin ketika menyebrang shirooth/Titian, 8) penjelasan tentang halal dan haram yang terdapat dalm taurat, 9) injil 10) al-quran, 11) keadilan.
Kata (nuur) jika di kemukakan dalm konteks uraian tentang manusia – baik dalm kehidupan dunia maupun akhirat – mengandung makna hidayah dan petunjuk Allah atau dampak dan hasilnya. Perhatikanlah – misalnya firman Allah dalam QS. Al-Baqarah 257.
“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada nuur (cahaya petunjuk).”  Atu firmannya:
“ Maka apakah orang-orang yang di bukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama islam lalu ia mendapat nuur dari Tuhanya (sama dengan orang yang membantu hatinya)?” (QS az-Zumar 22). I baca juga QS asy-suura: 52 atau QS al-Hadiid : 13.
Adapun jika kata itu atau aneka bentuknya menyifati benda-benda langit, maka ia mengandung makna cahaya, tetapi cahaya yang merupakan  pantulan dari benda langit lainnya yang bercahaya. Ketika berbicara tentang matahari dan bulan, Al-quran menyatakan bahwa Allah menjadikan  matahari Dhiyaa’ dan bulan Nuur (QS. Yuunus: 5).  Di kali lain bulan di lukiskan sebagai Muniiron (QS al-Furqon 61). Dari Al-Qur'an di temukan bahwa kata yang terangkai dari huruf-huruf yang sama dengan huruf-huruf kata Dhiyaa’, digunakan untuk untuk menunjuk cahaya yang bersumber dari dirinya sendiri, karena itu matahari di jadikan Allah dhiyaa’ bukan nuur. Karena cahaya matahari bersumber dari dirnya sendiri, bukan pantulan sebagaimana halnya bulan.
Ulama-ulam merujuk kepada ayat ini untuk menyatakan bahwa nuur adalah salah satu sifat/nama Allah, tetapi mereka berbeda pendapat tentang maksudnya. Ibn al-‘arabi mengemukakan enam pendapat ulama tentang maknanya yaitu : a) pemberi hidayah, b)pemberi cahaya, c)penghias, d)yang zaahir/Nampak dengan jelas, e) pemilik cahaya, dan f) cahaya tetapi bukanseperti cahaya yang kita kenal.
Banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Allah adalh pemberi cahaya, misalnya:
“sesungguhnya telah dating kepada kamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan” (QS al-Maidah 15).
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan nuur (bercahaya)” (QS Yuunus 5).
Tetapi jangan duga bahwa matahari atau api atau kilat, yang cahayanya masing-masing di lukiskan al-Qur'an dengan menggunakan kata yang berakar sama dengan dhiyaa’, jangan duga bahwa cahaya tersebut benar-benar bersumber dari dirinya sendiri. Ini hanya relative ketika di bandigkan dengan yang lain. Ini hanya di dasarkan ketika pada kenyataan yang kita lihat dengan mata kepala, atau kita ketahui, tapi sebenarnya semua cahaya tersebut bersumber dari Allah dan semua pada hakikatnya adalah nuur, dalam arti pantulan dari sumber cahaya yang tidak redup. Yaitu Allah SWT. Karena itu di nyatakan-Nya:
“segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi dan menjadikan gelap dan nuur (cahaya) (untuk seluruh yang ada di alam raya)” (QS. Al_an’am: 1).
Atas dasar itulah hendaknya kita memahami kata nuur jika di nisbahkan kepada Allah, maka ia berarti bahwa Dia pemilik dan Pemberi cahaya.
Imam Ghazali menjelaskan bahwa nuur adalah yang zaahir/jelas pada dirinya dan yang bersumber kepadanya segala yang jelas. Hujjatul islam itu menulis bahwa: kalau kita perhadapkan wujud ini dengan ketiadaan, maka tidak dapat tidak, pastilah yang tampak adalah yang wujud, dan tiada kegelapan yang melebihi gelapnya ketiadaan, karena itu tulis Al-ghazali lebih lanjut :  yang tidak di sentuh oleh kegelapan ‘adam (keiadaan), bahakan tidak di sentuh oleh kemungkinan ketiadaan,( yang wajib wujud-NYa) serta yang mengeluarkan segala sesuatudari kegelapan ketiadaan menuju kejelasan wujud (yakni sang pencipta), pastilah dia yang wajar menyandar nama Nuur.
Al-quran, selalu menggunakan kata Nuur dalm bentuk tunggal, berbeda dengan kegelapan (zhuluumat) yang selalu berbentuk jamak. Ini untuk untuk mengisyaratkan bahwa sumber cahaya hanya satu, yaitu Allah SWT, oleh karena itu ditegaskan-Nya pada ayat 40 berikut bahwa: “barang siapayang tiada di beri Allah nuur (cahaya petunjuk) maka tidakah ada baginya sedikit nuur (cahaya)pun.” Adapun kegelapan, sungguh banyaksumbernaypun beraneka ragam. Di sisi lain, ketika Al-quran menyebut nuur dan zhulumat secara bergandengan, yang di sebutnya terlebih dahulu adalh zhulumat. Ini bukan saja karena kegelapan (ketiadaan) mendahului cahaya (wujud), tetapi karena cahaya petunjuk-Nya adalah Nuur ‘ala nuur yakni cahaya di atas cahaya—seperti bunyi ayat di atas—maka betapaun terangnya cahaya yang telah anda raih, masih ada cahaya terang yang melebiinya, dan ketika anda berada pada cahaya yang melebii itu, maka cahaya yang telah anda raih sebelumnya, adalh relative gelap. Itu sebabnya mereka yang telah memperoleh cahaya petunjuk-Nya pun masih dapat memperoleh tambahan petunjuk:
“Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yng telah mendapat petunjuk”
Qs Maryam: 76 ini pula  agaknya yang di isyaratkan oleh penggunaan bentuk kata kerja masa kini dan datang pada kata yuuqod/dinyalakan. Sebagaimana di jelaskan sebelum ini. Ayat di atas sungguh  indah dan menyentuh , karena itu banyak ulama dan pakar yang membahasnya, dan beragam pula pendapat mereka tentang maknanaya, namun pada umumnya berpendapat bahwa ayat ini adalah gambaran tentang cahaya petunjuk Illahi. Nuur menurut Ibnu Asyur adalah kebenaran yang di peroleh melalui wahyu ilahai yakni al-quran. Kebenaran itu di ibaratkan denagn pleita yang di dung oleh sekian banyak factor dan cahaya yang menyatu pada nyala pelita itu. Bermula pada  misykaah di lanjutkan dengan kaca yang sangat bening yang di nyalakan oleh minyak zaitun yang terbaik.hasil dari kesemuanya di simpulkan dengan ungkapan nuur ‘alaa nuur.
Lebih jauh Ibnu ‘Asyuur menjelaskan bahwa setiap factor yang di sebut di atas dapat melahirkan perumpamaan tersendiri. Menurut ulama ini Misykaah menggambarkan ketetapan dan kemantapan serta kesempurnaan petunjuk illahi sehingga dapat melahirkan keyakinan tanpa kerancuan. Al-misbah dan penempatannya dalam celah itu, yang menjadikannya tidak padam merupakan gambaran dari pemeliharaan Allah terhadap Al-quran sesuai firman-nya:
“sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-quran, dan sesungguhnya kami benar pemelihara-pemeliharanya” (Al-Hijr: 9). Az-zujajah/kaca yang bening yang menjadikan apa yang terdapat di dalamnya semakin jelas adalah seperti penegasan al-quran daalm surah ini yaitu: walaqod anzalnaa ilaikum aayaat mubayyinaat/ dan sesungguhnya kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang member penerngan (ayat 34). Asy-syajaroh al-Mubaarokah (pohon yang penuh berkah) yang menghasilkan pohon zaitun. Adalh perumpamaan tentang hakikat-hakikat yang di hidangkan oleh Al-quran dan as-sunnah, dan yang menghasilkan bukti kebenaran dan petunjuk ilahi. Sedng pernyataan bahwa pohon itu”tidak di sebelah timur tidak pula di sebelah barat” mengisyaratkan toleransi dan moderasi ajaran al-Quran.
Penegasan bahwa (pelita itu) di nyalakan secara terus menerus mengisyaratkankelanggengan kesinambungan pembaharun ajaran-ajarannya.
Minyak zaitun yang demikian jernih mengibartkan penjelasan Nabi Muhammad SW menyangkut al-Quran serta hokum-hukum syariat, yang melalui penjelasan itu lahir cahaya bashiiroh/mata hati dna dalam saat yang sama mudah di raih tanpa susah payah.
Sentuhan api mengibartakan tampilan nabi Muhammad SAW menjelaskan ajaran-ajaran agama, dan ini mengisyartakan kesinambungan petunjuk tersebut. Demikian lebih kurang Ibnu ‘Asyuur.
Al-Biqa’I memahami pemilihan kata kaukab/bintang yang bercahaya, karena bintang ini tidak mengalami gerhana, berbeda dengan matahari atau bulan. Di sisi lain ulama ini meulis bahwa misykaah/celah dapt menjadi  lambing dari masjid-masjid. Az-zujaj adalah manusia-manusia yang berdzikir, al-isbah adalah kalbu, kecemerlangannya adalah kandungan kalbu yang mendorong seseorang berdzikir, as-syajaroh/pohon adalah jasmani yang telah di bersihkan dari aneka kekotoran dan  yang telah terbiasa dengan istiqoomah/konsistensi daklam keberagaman., sedang minyak adalha lambang dari rahasia-rahasia yang di campakkan Allah. Selanjutnya Al-biqa’I juga mengutip juga pendapat sahabat Nabi SAW. ‘Abdullah ibn Umar ra. Yang di riwayatkan olah ath-thabrani yang menyatakan bahwa Misykaah adalah “sisi dalam” Nabi Muhamad SAW., az-zujajah adalah kalbu beliau, al-misbah adalah cahaya yang berada dalam kalbi itu, sedang as-syajarah adalah nabi Ibrohim as. Dan tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat berarti bukan ajaran Yahudi bukan juga Nasrani.
Thabaathabaa’I mempunyai pandangan lain. Ulama ini memulai uraiannya dengan menjelaskan bhwa Allah SWT. Memiliki cahaya yang beraifat umum yang dengannya langit dan bumi menjadi jelas dan nyata setelah sebelumnya tidak nyata/tidak ada. Tidak di sangkal—tulisnya—bahwa nampaknya sesuatu oleh sesuatu yang lain mengharuskan yang menampakkan itu adalah sesuatu yang jelas  pada diirnya baru kemudian dia menjelaskan selainnya dan kareana itulah maka ia di anmai nuur. Allah adalah Nuur yang menampakkan langit dan bumi (serta segala isinya) sebagaimana cahaya (matahari, bulan , lampu dsb) menampakkan benda-benda setelah tertuju kepada cahayanya. Hanya saja pancaran nuur illahi terhadap sesuatu bertarti terwujudnya sesuatu itu, berbeda dengan pancaran cahaya matahari dan  semacamnya dan benda-benda, karena yang ini bukan sumber wujud benda-benda itu. Nah maksud kata pada firman-nya: (Allah nuur as-samawaat wa al-ardh) adalah nuur yang bersifat umum itu.
Thbaathabaa’I lebih jauh menggarisbawahi bahwa penyipatan Allah sebagai nuur mengisyaratkan bahwa Dia adalh wujud yang paling nyata, tidak ada sesuatupun yang tidak mengenal-Nya karena semua yang wujud dan Nampak adalah limpahan dari penampakan-Nya. Inilah menurutnya yang di maksud oleh firman-Nya pada ayat 41 dan 42 berikut yakni bahwa semua yang ada di langit dan di bumi termasuk burung-burung semuanya telah mengetahui cara shalat dan bertasbih kepada Allah karena “tidak ada amknanya tasbih/penyucian dan shalat, tanpa pengetahuan tentang siapa yang di sucikan serta yang tertuju kepadanya shalat”.
Selanjutnya Thabaathabaa’I menjelaskan bahwa ada juga nuur ilahi yang bersifat khusus. Ulama ini berpendapat bahwa nuur yang di maksud dalam firman-Nya (matsalu nuurihi/perumpamaan cahaya-Nya) adalah cahaya khusus itu, yakni cahaya yang menerangi jalannya orang-orang mukmin yaitu cahaya makrifat yang dengannya hati mereka memperoleh prtunjuk pada hari bergoncangnya hati dang penglihatan (kiamat) dan cahaya itulah yang mengantar mereka menuju kebahagiaan abadi sehingga mereka dapat menyaksikan dengan dengan mata kepala apa yang gaib dalam kehidupan dunia ini. Ini –tulisnya lebih lanjut—merupakan anugerah ilahu kepada  orang-orang mukmin yang mengantar mereka menuju kebahagiaan abdi yang tidak di anugerahkan-Nya  kepada orang-orang kafir. Mereka itu di biarkan Allah berada di dalam kegelapan tanpa dapt melihat. Kata nuur pada  firman-Nya  matsalu nuurihi, tidak mngkin di pahami dalam arti nuur/cahaya yang bersifat umum, sebagaimana tidak juga di dalam arti al-Qur’an karena ayat ini menjelaskan keadaan akaum mukmini secara umum, baik sebelum turunnya al-Qur’an maupun sesudahnya, dan mereka itu telah di sifati sebagai orang-orang yang di miliki nuur dan ganjaran sebagaimana firman-Nya:
“bagi mereka ganjaran mereka dan nuur mereka” (QS al-Hadiid 19), atau firmannya melukiskan keadaan nabi dan orang-orang mukmin:
pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: tuhan kami, smpurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami (QS at-Tahrim: 8)
Selanjutnya ulama yang beraliran syiah itu, menjelaskan bahwa sementara ulama berpendapat bahwa firman-Nya Nuur ‘ala nuur berarti pengadaan nuur itu, bukan berati berbilangnya cahaya itu. Ia bukan berarti ada cahaya tertentu atau tidak tertentu di atas cahaya yang lain yang serupa dengannya, tidak juga hanya berarti ada dua saja cahaya, tetapi dia adalah cahaya berlipat ganda tanpa menentukan berapa pergandaannya. Maka inilah yang di dukung Thabaathabaa’I walau dalam saat yang sama  dia menganggap baik dan teliti jika redaksi itu di pahami daam arti bilangan. Menurutnya, Nuur yang bersumber dari pelita itu adalah cahaya yang bersifat hakiki lagu bersumber dari dirinya, sedang Nuur yang di pancarkan oleh az-zujaajah/kaca bersifat majaazi.
Kedua Nuur itu berbilang dengan keterbilangan ini, walaupun hakikatnya Nuur itu hanyalah cahaya yang terpancar dari dari pelita itu, tidak pada kaca itu. Namun kaca itu kalau di tinjau dari keterbilangannya, maka ia pun memiliki Nuur yang berbeda dengan nuur-nya pelita. Keadaan ini, tulis thabaathabaa’I lebih lanjut, serupa dengan keadaan yang di maksud untuk di ilustrasikan oleh ayat ini, yakni cahaya iman dan ma’rifat yang menerangi hati orang-orang beriman, bersumber dari nur Ilahi.
Firman-Nya: yahdi allaahu li nuurihii man yasyaa/Allah member petunjuk kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehedaki, yakni nuur-Nya itu di anugerahkan atas dasar kehendak-Nya semata-mata dan kehendak-Nya itu berkaitan dengan sikap manusia, apakah ia mau meraihnya atau enggan. Ini berarti cahaya Allah yang melimpah itu tidak terhalangi. Dia menganugerahkannya kepada siapa  saja yang Dia kehendaki, tetapi yang bersangkutan terlebih dahulu harus bersedia untuk menerimanya. Ini dapat di pahami dengan mengamati matahari. Amatilah sang surya itu ketika memancarkan cahayanya. Ia tidak membedakan satu mahluk dengan mahluk yang lain. Tidak seorangpun merasa kekurangan cahaya tau memperoleh kehangantan dan cahayanya, atau merasa kekurangan, mak itu karena posisinya yang keliru. Itu karena dia menjauh dari chaya yang bersinar itu. Demikian juga cahaya Ilahi.
Firman-Nya Wa yadhribu Allaahu al-amtsaa li an-naas/Allah membuat perumpamaan-perumpamaan, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, mengisyaratkan bahwa ayat ini mengandung makna-makna yang sangat dalam, tidak semua orang dapat menjangkau maknanya, tetapi masing-masing memahami sesuai dengan potensi dan kemampuannya. Memang demikianlah matsal (perumpamaan) al-Qur’an, dia mengandung aneka makna yang di paparkan kepada manusia tetapi hanya orang-orang yang pengetahuannya dalam yang dapat memahaminya dengan baik. (baca surat al-‘Ankabut; 43).
Sementara orientalis menyatakan bahwa ayat ini memiliki hubungan yang sangat erat atau bahkan di sadur atau di jiplak oleh Nabi Muhammad SAW dari perjanjian baru. Mac Donald misalnya berpendapat : Dilihat dari susunan bahasa, agaknya ayat itu menyinggung masalah pelayanan ketuhanan yang terdapat di gereja-gereja dan biara-biara, yaitu bentuk bentuk pelayanan yang terlihat pada altar (autel) gereja yang bersulam cahaya. Selain itu ungkapan al-Qur’an ada kaitannya dengan istilah “cahaya alam” dalam iil dan cahaya dari cahaya dalam “la profession de foi du concile de nicee” (deklarasi majlis keimanan majelis nicee).
Anggapan seperti ini, tulis Abdurrahman badawi dalam bukunya versi bahasa prancis “Defense du coran ses critiques” (versi bahasa arab “Difaa’ani Qur’an Dhidda Muntaqdih” sama skali tidak benar, di lihat dari beberapa segi:
Pertama, cahaya-cahaya di altar gereja cukup banyak, sedangkan al-qur’an hanya menyebutkan satu cahaya yang menyinari langit dan bumi. Kedua, dalam deklarsi keimanan yang di sebutkan  Mac Donald tertulis “phoes ek photis” (cahaya dating dari cahaya)”. Jadi antara keduanya mempunyai pengertian yang berbeda. Ketiga, para pujangga jahiliyah seperti umru’ al-Qays menggambarkan lampu-lampu biarawan yang memancarkan cahaya bagaikan menyelusup dalm kesunyian pertapaan mereka. Nabi Muhammad SAW tidak perlu meminjam perumpamaan tersebut untuk mengungkapkan cahaya illahi, karena termasuk kekafiran.
Orientalis lain, Clemont ganneau, juga mengatakan bahwa ia menemukan persamaan ayat al-qur’an dengan Zakariyya (4: 1-13, erjanjian lama) ang berbunyi: maka kembali malaikat yang berbicara denganku dan membangunkanku seperti orang di bangunkan dari tidurnya. Ia bertanya kepadaku “apa yang engkau lihat?” aku jawab: “menurut pandanganku, aku melihat mihrab dari emas pada bagian atas peti kas dan di atasnya terdapat tujuh lampu dan tujuh tangkainya. Di sisinya terdapat dua pohon zaitun, satu di sebelah kanan dan satu lagi di sebelah kirinya. Aku lanjutkan pembicaraanku seraya bertanya kepada malaikat yang tadi berbicara denganku: “apa maksudnya hal ini?” kemudian aku berkata:  ‘’Tidak, oh tuhanku”…, maka ia berkata kepadaku: “tujuh lampu ini artinya mata-mata Tuhan yang menjaga bumi”, kemudian aku bertanya: “apa maksudnya dua pohon zaitun yang berada di sebelah kanan dan kiri mihrab?” ia menjawab: “mereka itu dua orang laki-laki yang di beri makan dengan minyak.”
Dari teks di atas jelas sekali perbedaannya dengan ayat al-qur’an yang di tafsirkan ini. Teks zakariyya menggambarkan lampu Kristal dari emas yang di atsnya terdapat tujuh lampu dan di samping kiri kannnya terdapat dua pohon zaitun. Smentara dalam al-qur’an tidak ada gambaran seperti ini. Bahkan sekedar membicarakan tujuh lampu saja sudah bertentangan  dengan nash al-qur’an yang hanya menyebutkan tujuh lampu, (karena allah itu esa), bukan tujuh. Selain itu al-qur’an hanya berbicara tentang satu pohon zaitun yang “tidak ada di timur dan baratnya”, karena merupakan gambaran keruhanian. Dari sini tampak, betapa menyoloknya perbedaan antara kitab zakariyya denga ayat al-Qur’an.
Clermont Ganneau agaknya berupaya untuk meralat pendpatnya di atas setelah merasakan adanya perbedaan yang menyolok antara kedua teks tersebut. Untuk itu, ia berkata: “jika Muhammad mengutip intinya dari tradisi-tradisi Yahudi dan Kristen, maka aaknya  ia sengaja menjauhkannya dari tradisi tadi, terutama mengenai bentuk lampau yang menempati posisi penting pada kedua teks tersebut. Dari itu, ia hilangkan dari al-qur’an ungkapan lampu Kristal bercabang tujuh yang di lihat zakariyya dalam mimpinya.”
Kalau demikian apalagi yang tertinggal dari mimpi zakariyya tersebut? Jawabnya, yang tertinggal hanya lampu. Sekedar lampu, tentu tidak cukup sebagai alas an untuk menyamakkan antara teks zakariyya (perjanjian lama) dengan ayat al-qur’an. Demikian Abdurrahman Badawi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar